What a nice day

June 13, 2012

Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Alhmdlh,hr ini dimulai denga pressure untuk menyelesaikan tugas bikin strategi bisnis. Buset,dah disuruh bikin strategi aja.for the whole day,i m sweating n stressfull,until then i moved to a more quite meeting room,then more concentrate on the task. It ended up untill a friend of mine came in n i discuss with him on my slides. It was good because i could know whats missing n whether its good enough. At least it gave me some insight. Then i continue the work,and finally i got the key how to wrap up everything. Ao suddenly the picture was complete,n i am ready to discuss the strategy with the boss.then the boss came n we  discussed. With some challenges,finally he was ok with it and the task officialy completed.yeah,this is my 2nd biz strategy experience. It was good,n i learned from it. Yeaaaaa. A continuing positive experiences. Nice. Alhamdulillah ya Rabb. Mudah2 trus berlanjut n barakallah. Amin

Advertisements

material elevation: a turbulence

December 21, 2009

aslm.

Lur, enhancement in material life is not really an easy shit.

sebelumnya, i was really a modest guy. eventhough i got quite “high” preferences & style, but i was not really like that. i was really modest, hidup sederhana with saving account. uang bekel yang dibudget tiap bulan, was really enough to support my daily activity. bahkan, i still be able to spare some money for saving. Now, i even have no idea or spirit to have a saving. for what? hehehe…life huh…

things changed so fast in the last two years. good job, and the salary of course, has lifted my nett income. at that time onward, money is not even a shit. evethough cash flow still need to be managed, but i am sure that i have the money. debt can be easily paid off, it is just a matter of time. but the hard part is that my material obsession, lust, become greater and greater.

in the old days, i was a modest and decent guy. brute enjoyness and material lust can be stopped easily. when goodthings happened, I always keep myself to be down to earth. sensing that it all needs to be turned down, and harus disyukuri. but now, it is hard. keinginan material selalu ada di otak, meskipun hati ini tahu, bahwa it wont give you any happiness.

kebahagiaan yang diberikan hanya temporary, sementara. and perlu perjuangan supaya it can gives you happiness. tapi most of the times, no, it doesnt provide you happiness at all. yang ada, kita mikirin materi terus. yang ini kurang, yang ini belum punya. kalopun punya, disini ada yang kurang, disitu ada yang perlu ditambahin, ga berhenti2. nafsu ngebuat semuanya diukur dari materi. happiness direkayasa sebagai kepemilikan akan sesuatu, and kebanggaan bahwa kita udah punya “sesuatu”. tapi in fact, it is nothing indeed.

jujur, semuanya cuman khayalan, fatamorgana. kebahagiaan ato rasa bangga yang muncul, itu cumana sekelebat aja. ga lebih lama dari lima belas menit. setelah itu rasa resah muncul. resah karena perasaan materialis itu–ngerasa ada yang kurang mulu, ato takut ada yang ilang. yang pasti, resah karena takut bahwa kita sudah terbawa cinta dunia. takut, uneasy. ngerasa bahwa kita ga bersyukur ma Tuhan. takut rizki ini ga barokah. karena apa? karena materi dah ngalihin semua pemikiran kita. kita jadi lupa ma Sang Kuasa. ibadah kita jadi rapuh karena ga khusyu, and resah karena ngerasa kita terlalu sibuk ma dunia. lupa ma Tuhan.

astagfirullah. now, semuanya masih berjalan seperti itu. mentally, masih belum kuat untuk menampik godaan materi. rasa belagu, sombong, riya, merasa diri ini kaya and besar, masih kuat dalam hati. astagfirullah. ibadah juga jadi kurang. hati ini jadi gelap, menjauh dari rahmat Tuhan.

Please God help me from the lust of the world.

heaven and hell

February 24, 2008

baru terbersit dalam pikiran, saya tak pernah membayangkan, bahkan memimpikan, kebahagiaan sempurna itu seperti apa, dan kesedihan tak terperikan itu seperti apa. saya yakin sebagian besar dari anda pun belum pernah. bisa jadi ini dianggap tidak penting, tapi sebetulnya menyentuh nilai hidup kita yang paling hakiki.

kehidupan di dunia tak menyuguhkan kebahagiaan secara utuh, dan tidak juga mengganjar kesulitan dengan abadi. mungkin itu sebabnya kita tak pernah tahu makna sesungguhnya dari kebahagiaan, dan lawannya, kesedihan.

 banyak pujangga, dan orang yang dianggap besar, mengatakan bahwa kebahagiaan terbesar itu adalah cinta. atau pemberian yang tidak mengharap imbalan. kebahagiaan itu ketika kita memilih jalan hidup dengan bebas tanpa tekanan orang lain. dan kebahagiaan itu ketika kita hidup tanpa takut akan dilukai orang lain.

namun, semuanya tetap terbatas. saya sangsi petuah bijak di atas memberikan perasaan bahagia seutuhnya.

saya mempertanyakan diri sendiri, kenapa tak pernah memimpikan surga, ataupun neraka. mungkin beberapa orang pernah memimpikan neraka atau kematian dirinya sendiri. tapi apakah ada yang pernah melihat surga. saya penasaran, apa kebahagiaan itu, dan apa kesedihan tak terperi itu.

semuanya terbatas, dan berupaya memaknai bisa menjadi alternatif.

annoyance and uneasiness

February 21, 2008

still related with hopes and desperation which disturb your mind.

 chaotic

life is full of magic?

February 20, 2008

life is magical!

keajaiban yang hadir karena adanya harapan dan rasa putus asa. keajaiban yang hadir tiba-tiba tanpa pernah dikehendaki. keajaiban yang meyakinkan Tuhan itu ada dan takdir itu benar adanya

semua orang pasti pernah merasakan keajaiban dalam hidup. tapi entahlah bagi mereka yang selalu merana setiap detik jiwanya bernafas.

cukup sulit untuk merasakan, dan mengakui sesuatu sebagai keajaiban. perlu hati yang lapang, dan jiwa yang besar. orang-orang egois jarang memandang kebahagiaan tak terduga sebagai keajaiban. “itu kan hanya kebetulan belaka,” ujar mereka.

tapi sungguh nyaman mengakui sesuatu sebagai keajaiban. karena bagaimanapun kita, manusia, tak punya kekuatan sama sekali. kita beruntung punya tangan yang masih bisa memegang kursi, dan punya hidung yang masih menghisap oksigen. tapi suatu saat, kedua anggota badan kita itu bisa berhenti tiba-tiba, tanpa memberikan isyarat terlebih dahulu.

kita masih bisa menggerakan badan tanpa pernah tahu kenapa mereka bisa bergerak, bukan? kita tak pernah tahu kenapa waktu berjalan dan oksigen bisa menyelamatkan hidup, bukan? belum lagi ketidaktahuan kenapa kita bisa menghasilkan uang dan memiliki hidup yang mantap. 

hahahah, saya sangat percaya pada Tuhan, dan keajaiban itu solusi dari hati yang kalut. saya percaya, dan saya tetap berdoa. terkadang, jalan selalu muncul ketika kita kalut. itulah keajaiban yang ruar biasa. hati yang sombong, biasanya langsung tersipu malu ketika ditolong Tuhan.

Da’i, Aman, Hade, Mampukah?

February 14, 2008

Tak lama lagi Jabar merayakan pesta demokrasi kedua terbesar di Indonesia setelah pilpres. Pilkada untuk memilih gubernur masa jabatan 2008-2013 akan berlangsung pada 13 april mendatang. Sebanyak 29 jutaan pemilih terdaftar akan menyalurkan suara mereka ke kotak-kotak rahasia, yang hanya bisa dibuka ketika semua proses pencoblosan selesai dilakukan. Sebuah kegiatan rutin lima tahunan yang menelan dana hingga 350 miliar rupiah.

Luar biasa! Proses tersebut akan dipuji oleh banyak orang bila berlangsung sukses, bahkan dari elemen di luar negeri. Bagaimana tidak, pemilu adalah instrumen terkuat demokrasi, nilai yang dijunjung tinggi oleh hegemon dunia saat ini.

Secara moral, saya sepakat dengan cita-cita pemilu. Memilih pemimpin yang mengemong rakyatnya–karena rakyatnya sendiri yang mengangkatnya. Tetapi, kenyataan di lapangan tidak semanis iklan yang keluar dari mulut politisi. Demokrasi sekarang masih jadi ajang pemuas kekuasaan. Rakyat hanya dijadikan modal tak bergerak, yang tak pernah protes meskipun cat dindingnya tak pernah diurus. Getir! Sekaligus nilai merah bagi politisi kita.

Pilkada di jabar sama saja. Hingga saat ini jumlah kandidat telah mengerucut hingga tiga pasangan calon cagub-cawagub saja yang akan tampil di gelanggang. Proses mulai dari menilai dan memperkirakan–bukannya menimang dan memperhatikan–tren cara memilih rakyat, hingga munculnya nama oleh parpol bisa dikatakan lancar. Meskipun tawar menawar modal dan bep (break event point) investasi politik tetap jadi inti dari proses tersebut.

Partai berhasil mengajukan calon, tapi masalah lebih besar dimulai dari situ. Tiga pasangan cagub-cawagub, Danny-Iwan Sulanjana (Da’i), Agum-Nu’man (Aman), dan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade), tidak mampu menawarkan hal baru yang esensial. Danny dan Agum adalah orang lama di birokrasi. Rekam jejak mereka menunjukkan tak ada bintang yang berkilau, semuanya jeblok. Kalaupun ada, hanya nilai biru enam yang rawan. Pasangan ketiga mungkin menawarkan sesuatu yang baru–minimal orang baru–tapi tetap saja tak punya background pemikiran kuat untuk bisa mengubah jabar.

Ketiganya tak punya trah hebat untuk menjadi pengubah situasi layaknya Hugo Chavez, Ahmadinejad, atau paling tidak Solihin GP. yang berdarah sunda asli. Tak ada satu pun yang punya visi perubahan mendasar, terutama dari sisi reformasi birokrasi, kebijakan ekonomi, supremasi hukum, maupun keadilan sosial yang membela rakyat kecil. Tak ada sama sekali.

Dari segi birokrasi, dua kandidat awal jelas tercoret dari daftar unggulan. Keduanya tak mampu menjinakkan binatang liar raksasa bernama birokrasi. Danny yang notabene “orang pemda” tak bisa mengubah performa birokrat pada lima tahun masa kekuasannya. Pun dengan Agum. Selama menjabat menteri transportasi di era Megawati, Agum tak mampu memaksimalkan kinerja bawahannya untuk membenahi sistem transportasi indonesia. Yang ada malah semakin amburadul, kecelakan moda pengangkutan masih sering terjadi. Nilai merah, sulit untuk membuat orang percaya guna memberikan kursi pemimpin birokrat di pundak mereka. 

Pasangan Hade bisa jadi pembawa harapan perubahan kinerja birokrasi, karena mereka jelas orang baru. Hanya saja, mereka belum memaparkan jurus jitu yang akan diperagakan untuk menaklukan birokrasi sampai lima tahun ke depan. Hingga saat ini mereka baru sekedar berbicara dan berjanji. Tak ada hal lebih selain omong kosong. Apabila ingin sedikit diperhatikan, mereka seharusnya segera menjelaskan blueprint yang detail untuk mengangkat dan membersihkan kinerja birokrat.

Dari kacamata ekonomi, jelas ketiganya memiliki kemampuan yang terbatas. Meski otonomi daerah telah bergulir, tapi sistem besar ekonomi masih dipegang pemerintah pusat. Calon yang berani, tak akan serta merta mengubah rezim liberalisme pasar dan kapitalisme yang jadi jiwa perekonomian Indonesia. Padahal, inilah zero point untuk memperbaiki kesejahteraan bangsa. Entah mengapa, apakah pemerintah pusat belum membaca banyak buku yang mengkritik kapitalisme atau memang dicekik lehernya oleh kekuatan-kekuatan neoimperialisme barat, sehingga tak ada jalan lain untuk keluar dari jebakan kapitalisme. Bila pemerintah saja tidak mampu, apalagi gubernurnya!

Dari pemaparan visi ekonomi yang dilakukan ketiga calon beberapa waktu lalu di Bandung, terungkap tak ada hal baru yang mereka tawarkan. Paling hanya peningkatan investasi, pemberdayaan ukm, memaksimalkan potensi sumber daya alam, dan peningkatan kualitas sdm. Semuanya telah banyak didengungkan rezim Danny yang saat ini berkuasa, namun hasilnya tetap nihil. Belum ada yang mampu menawarkan ide radikal, seperti membuat hukum dagang yang adil, mencegah destruksi ekonomi kecil yang dilakukan perusahaan besar, penempatan ekonom-ekonom handal sosialis di pucuk pimpinan dinas yang economic-related, dan menuntut revisi kontrak pada perusahaan asing yang merugikan kepentingan daerah–tak hanya nasional.

Sementara, dari kacamata hukum dan keadilan sosial? Jelas sekali orang tidak akan percaya bahwa mereka bisa mengubah situasi saat ini, ketika hukum diperjualbelikan dan hak si kecil dicolong si besar. Orang sudah jijik membahas dua variabel ini, termasuk saya. Terlalu banyak hal yang harus dibicarakan untuk memaparkan bahwa hukum dan keadilan sosial di Jabar, dan Indonesia sudah hancur, sehancur-hancurnya. Semua pembicaraan akan berujung pada lubang hitam negatifitas.

Pemaparan diatas bisa dinilai terlalu negatif, namun sepanjang para calon ini tidak bersikap jujur pada rakyat dan takut pada Tuhan, maka label “not passed quality control check” akan tetap menempel di leher mereka. Kita tunggu sejauh mana program perbaikan yang mereka buat dapat relevan untuk membangkitkan Jawa Barat.

Saya pribadi ingin mendengar pemaparan mereka, beserta print out-nya. Tak peduli bila harus menghabiskan satu rim kertas untuk mencetaknya, tapi yang penting mereka beritikad dan berbuat nyata. Bila tidak, golput adalah pilihan terbaik. Akan tetapi bukan golputnya mereka yang kecewa karena tergusur dari persaingan politik kotor, tapi golput yang didasarkan pada hati nurani.

Golput yang efektif, adalah ketika 60% penduduk Jabar memilih untuk tidak memberikan suara. Pemerintah akan kapok karena legitimasi sudah tak bisa diraih lagi dengan bualan kosong dan konser dangdut yang seronok. Mereka harus berpikir, sebenar-benarnya berpikir.